Inikah rasanya cinta (Kyuhyun POV)

 Inikah Rasanya Cinta???

Ini semua Kyuhyun P.O.V

Aku mengerjapkan mataku perlahan, membiarkan sinar matahari menyusup kemataku. Kulirik jam dipergelangan tanganku, 1 jam 20 menit. Kurasa cukup untuk menggantikan waktu tidur malamku yang kuhabiskan untuk bermain game. Kuedarkan pandanganku, sepi. Halaman belakang sekolah memang sepi, sehingga cocok kujadikan tempat favoritku untuk tidur. Kurenggangkan tubuhku untuk mengembalikan kesegaran. Saat aku hendak melangkah, tanpa sengaja mataku menangkap sosok gadis tengah tertidur pulas sambil bersandar pada batang pohon. Tanpa kuperintah kakiku bergerak mendekatinya, bukan hanya kakiku saja yang lancang bergerak tanpa kuperintah, tapi bibirku pun bergerak membuat sebuah senyuman saat melihatnya. Perlahan kududukkan tubuhku hingga wajahku sejajar dengan wajahnya. Jariku bergerak merapikan poni yang menutupi wajahnya. Kuselipkan anak rambutnya diantara telinganya. Kupandang wajahnya, wajah gadis yang selalu kujahili tapi sangat ingin kulindungi. Gadis ini, gadis yang telah berhasil memporak-porandakan hatiku. Gadis yang bila aku didekatnya membuat jantungku berpacu dengan kencangnya. Gadis yang membuat otak dan tubuhku tidak bisa bekerja dengan benar. Gadis yang berani-beraninya menolakku, padahal biasanya aku yang menolak gadis – gadis. Gadis ini, gadis yang benar – benar memiliki tempat special dihatiku.

Kutelusuri setiap inci wajahnya, mulai dari bulu matanya yang panjang, hidungnya yang mancung, pipinya yang cubby, dan.. astaga mengapa saat aku melihat bibirnya jantungku berdetak kacau begini. Aku merasa bibirnya memiliki magnet yang sangat kuat yang membuat aku ingin mendekatkan bibirku. Aku mendekat perlahan kearahnya. Mendekat..semakin dekat..

‘DUG’

“Aish..” aku mengusap kepalaku. Sial, bahkan pohonpun seakan tidak rela aku menciumnya, sampai – sampai aku dijatuhi ranting yang cukup membuat kepalaku berdenyut. Tapi setidaknya ini mebuat kesadaranku kembali. Bagaimana jadinya kalau tadi aku menciumnya lalu dia terbangun, bisa-bisa dia mengira aku laki-laki kurang ajar.

Tiba-tiba ide jahil mucul diotakku. Sebenarnya aku tidak ingin menjahilinya, aku hanya ingin melihat wajah kesalnya, entah kenapa setiap melihat wajah kesalnya dia begitu menggemaskan. Aku sudah hapal bagaimana ekspresi kesalnya. Dia akan menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Aish bahkan hanya membayangkannya saja sudah membuatku tersenyum seperti ini.

Aku mencipratkan air kewajahnya. Terlihat dia mulai menggeliat pelan.

”HOAAAAAMMMM…..” dia menguap tanpa menutup mulutnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

”Apa sudah puas kau tertidur?”  dia terlihat kaget saat mendengar suaraku.

”C..Cho Kyuhyun..” pekiknya kaget.

”YAA..cepat bangun, atau kau ingin aku menumpahkan segelas air ini diwajahmu.” ucapku sambil menunjukkan gelas besar yang berisikan air. Sepertinya dia baru menyadari sesuatu, terlihat sekali dari ekspresi wajahnya.

”Jadi tadi bukan hujan?” tanyanya yang hanya kujawab dengan tatapan dan senyuman yang terlihat seperti mengejek, sebenarnya bukan senyum mengejek hanya senyum yang aku tahan.

”YAK!! CHO KYUHYUN, KAU CARI MATI HAH!!!!!!!!” jeritnya begitu menyadari semua ini ulahku.

*********************

“KYAAAAA……….” Aku menjerit kaget. Bagaimana tidak, saat membuka tas ranselku tiba-tiba keluar binatang yang paling tidak kusukai. TIKUS. Dan bukan hanya seekor tapi 3.. Sebenarnya aku tidak takut pada tikus, hanya geli saja melihatnya.

“YAK!!! Siapa yang berani menaruh tikus ditasku!!!!” Satu kelas hening seketika saat mendengar teriakanku.

“Baik kalau tidak ada yang mau mengaku. Aku akan cari tahu sendiri.” Ancamku.

Selama jam pelajaran aku tidak konsen sama sekali, aku memikirkan siapa yang menjahiliku hari ini. Tiba-tiba aku teringat kejadian kemari saat aku mengerjai Minra. Apa ini ulahnya. Bagaimana dia bisa tahu aku benci tikus, diakanselalu bersikap acuh dan bahkan tidak mau tahu tentangku. Atau….jangan-jangan selama ini dia berpura-pura tidak peduli dihadapanku, padahal sebenarnya dia memperhatikanku. Yak Cho Kyuhyun bodoh…!!, kemana rasa marahmu, kenapa hanya berpikiran bahwa dia perduli padamu rasa marahmu langsung menghilang entah kemana, bahkan bibir bodohmu ini kini telah tertarik sempurna membentuk sebuah senyuman. Aku merutuki diriku sendiri. Lihatkan, gadis itu benar-benar membuat otak dan tubuhku bekerja bertentangan.

TENG…TENG…

Begitu bel istirahat aku langsung menuju kelas Minra, Yah Minra tidak 1 kelas denganku, dia adik kelasku. Tapi dasar gadis tidak sopan, setiap bertemu denganku jangankan memanggil oppa memanggil aku sunbae pun tidak pernah. Aku jadi ingat saat pertama kali bertemu dengannya, bukan pertemuan manis seperti kebanyakan orang, bahkan bisa dibilang sangat jauh dari kesan manis saat bertemu dengannya. Bagaimana tidak, pertama kali bertemu aku tengah melihatnya berkelahi dengan 3 orang gadis yang bahkan tubuh mereka lebih besar darinya. Kesan pertama saat melihatnya, aku merasa dia gadis urakan dan kasar. Tapi ternyata aku salah besar. Begitu dia berhasil mengalahkan ke-3 gadis tadi, dia menghampiri seorang gadis lainnya yang tengah meringkuk ketakutan dan dengan pakaian yang acak-acakan. Dia memunguti beberapa buku yang tercecer dan merapikan pakaian serta rambut gadis dihadapannya itu.

Ketika melihatnya untuk kedua kalinya aku baru tahu kalau ternyata dia adik kelasku. Kalian tahu, aku melihatnya tengah dikejar-kejar oleh Kang Songsaengnim, guru yang terkenal galak di sekolahku. Saat aku bertanya pada beberapa siswa yang kebetulan aku temui, mereka bilang bahwa siswi itu dikejar karna menumpahkan kopi panas ke baju Kang saem. Gadis yang aneh tapi juga unik menurutku. Dan pertemuan-pertemuan berikutnya juga tidak berbeda jauh dengan pertemuan pertama dan kedua.

Tidak terasa aku sudah sampai didepan kelasnya. Aku merapihkan sedikit pakaianku dan mengubah ekspresiku menjadi dingin. Hei, Bukankah di drama-drama biasanya seorang gadis akan lebih tertarik dengan pria yang memiliki ekspresi dingin. Ha,,ha,, apa aku terlalu banyak menonton drama. Kubuka pintu kelasnya dengan sedikit kasar.

”YAKK!! Yoeja gila, kaukanyang memasukkan tikus ditas ku?” jeritku begitu melihatnya.

”Enak saja main tuduh. Memang kau punya bukti?” ucapnya mengejek.

”Sekarang memang aku tidak ada bukti. Tapi aku yakin itu ulahmu. Lihat saja kau ya, aku akan membalas apa yang kau perbuat padaku.” Aku bisa melihatnya kini tengah menahan tawa, aku yakin begitu aku keluar kelas dia pasti akan menertawakanku.

”Ughhh!!!!! Aku takut….” Ucapnya tepat dihadapanku dengan suara dibuat-buat seperti ketakutan. Aish gadis ini, tidak tahukah dia ekspresinya itu benar-benar membuatku semakin ingin memilikinya.

”Aish awas kau ya, jangan panggil aku Kyuhyun kalau aku tidak bisa membalasmu.” Ucapku mencoba mengendalikan diriku sambil berlalu meninggalkan kelasnya.

Begitu aku keluar dari kelasnya, bisa kudengar tawanya membahana dikelas.

*********************

“Aku bukan ingin mencuri saem” aku mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Kang Songsaengnim, tapi sepertinya beliau tidak mau mendengarkan penjelasanku. Dan tangannya tetap saja bertengger indah ditelingaku, membuat telingaku merah sebelah.

“Songsaengnim, dengarkan dulu penjelasanku.” Aku memohon. Tidakkah dia tahu aku malu menjadi tontonan murid-murid 1 sekolah hanya karna kesalah pahaman. Aku bukan ingin mencuri  barang milik Minra dilokernya, tapi aku ingin menaruh gantungan kunci bergambar MU untuknya. Aku tahu dia penggemar berat klub sepak bola dikotaManchesteritu.

“Tidak usah mengelak Cho Kyuhyun, tadi aku melihatmu sedang membuka loker Minra tanpa seizinnya. Apa itu tidak bisa dibilang kau tidak memiliki niat buruk dengannya??.” Sepertinya percuma aku menjelaskan pada Kang Saem.

“Kau, cho Kyuhyun, berdiri disana dengan satu kaki.” Aish tidak kah Kang Saem sadar aku bukan murid SD lagi, kenapa dihukum seperti ini, membuatku tambah malu saja. Bagaimana kalau sampai Minra melihatku. Aish….!!!!

Dan benar saja, saat jam istirahat Minra datang menghampiriku.

“Hahahaha…dasar babo jadi kena batunya sendirikan.” Tawanya dihadapanku. ”Ku kira aku membutuhkan tenaga ekstra untuk mengerjaimu hari ini. Tapi sepertinya Tuhan sedang berbaik hati padaku, tanpa aku melakukan apa-apa kau sudah dihukum.” Dia sepertinya senang sekali melihatku dihukum seperti ini. Tapi entah kenapa melihatnya tertawa seperti itu aku bukannya marah malah senyum-senyum tidak jelas seperti ini. Pipinya yang cubby tampak terlihat memerah karna tawanya. Itu benar-benar menggemaskan. Aku ingin tahu seperti apa ekspresi wajahnya saat aku mendekatkan wajahku padanya.

“Aku babo katamu, ah, sepertinya benar.” Ujarku sambil tersenyum kearahnya dan semakin mendekatkan wajahku padanya.

“A-ap-a yang ka-u lakukan.” Tanyanya gugup.

“Apa yang aku lakukan, menurutmu apa yang akan aku lakukan?” aku mengeluarkan  senyum evil kearahnya. Kutelusuri wajahnya. Kutatap matanya yang bulat hitam. Sesaat mata kami bertatapan.

“Jauhkan wajahmu dariku Cho Kyuhyun-ssi atau kau ingin mati hah!!” ucapnya sambil mendorong tubuhku menjauh, tapi percuma saja karna tubuhku tidak bergerak sedikitpun. Dan bukannya makin menjauh aku malah mendekatkan lagi wajahku hingga hidungku nyaris bersentuhan dengan hidungnya. Tapi, Yak!! Kenapa jantungku jadi berdetak tidak karuan begini. Akukan bermaksud menggodanya, tapi kenapa jadi aku yang tergoda. Dan apa ini, kenapa dia menutup matanya, seolah-olah dia benar-benar menggodaku untuk menciumnya. Aishh…sadarlah Cho Kyuhyun.

“HA…HA…HA…wajahmu lucu sekali, kenapa kau menutup matamu hah? Kau pikir aku ingin menciummu. Tch, kau terlalu banyak menonton drama. Jadi singkirkan pikiran yadongmu itu. Kau tau aku mendekatkan wajahku bukan untuk menciummu tapi aku ingin menghitung berapa banyak jerawat yang tumbuh di wajahmu ha,,ha,,ha,,” aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku benar-benar gugup. Hanya itu yang terlintas dipikiranku.

“YAKKK..awas kau Cho Kyuhyun, sudah bosan hidup kau rupanya.” Dia berteriak kesal sambil menutupi wajahnya yang memerah. Aish dia ini, aku semakin benar-benar menginginkannya menjadi yoeja-ku.

“Yoeja babo, aku tidak akan menyerah untuk menemukan cara agar kau menjadi yoejacinggu-ku.” Entah kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku begitu melihat dia berlari menjauh. Demi apapun aku akan menjadikanmu milikku.

*********************

“Tch, kenapa aku jadi beser(?) seperti ini.” Aku segera melangkah menuju WC di belakang sekolah. Ah sepi sekali. Wajar saja ini kah sudah 30 menit dari waktu pulang. Aish kalau saja aku tidak disuruh Lee saem membantunya mengoreksi ujian matematika.

”Kkkkk…pasti dia jatuh.” Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang di luar. Aku menajamkan pendengaranku. Suara ini, aku tahu ini suara Minra. Aku mengintip dari sela-sela lubang kunci. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan padaku.

Aish..gadis ini benar-benar senang sekali mengerjaiku. Ah, tiba-tiba ide jahil melintas di otakku.

”Hana..Dul..Set”. begitu mendengar hitungan ketiga darinya, aku membuka pintu toilet.

”Kenapa tidak terjadi apa-apa ya??.” Kkkkk… dia menggerutu sebal.

”Eh, lho, kemana dia?” terlihat dia celingukan mencariku. ”Aku yakin dia belum keluar dari toilet. Tapi pintu toiletnya terbuka, apa tadi bukan dia? Atau jangan-jangan Hiiiii….” Ha..ha..ha..dia pikir aku ini hantu apa.

”Heh mesum, kau mencariku? Kau kira aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan padaku.” Aku sengaja tiba-tiba muncul dibelakangnya.

”Ommo!!” dia terlihat sekali sangat terkejut.

”O-oh kau, aku pikir..KYAAA!!!!!!!!!!” dia yang kaget refleks berbalik menghadap kearahku, tapi dia lupa kalau lantainya licin. Refleks aku menangkap tubuhnya.

GREEBBB

Aku menangkap tubuhnya. Membuat jarak antara kami benar-benar dekat. Astaga Tuhan,, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku saat melihat wajahnya sedekat ini. Aku bahkan dapat merasakan hembusan nafasnya menyapu wajahku. Dan saat aku melirik kearah matanya, mata kami saling bertemu, ternyata dia juga sedang menatapku. Matanya yang hitam pekat itu seolah menyihirku untuk tetap menatapnya. Dan entah keberanian dari mana aku melumat bibirnya perlahan.

********************

Esok hari sepulang sekolah

“Temani aku.” Ucapku sambil menarik tangannya. Aku tidak peduli dia mau atau tidak. Yang pasti setelah kejadian di WC kemarin, sudah kuputuskan dia menjadi yoejaku.

“Yaa..sakit, dasar tidak tahu sopan santun.” Teriaknya.

“YAK! Cho Kyuhyun, apa yang kau lakukan hah! Kau kira tanganku karet bisa kau tarik seenaknya.” Ucapnya sambil mencoba menghempaskan tangannya dari genggamanku.

“Temani aku makan, aku lapar.” Ucapku datar.

“Tidak mau! Aku harus bekerja, Yak lepas!!.” Dia masih saja meronta. Ish apa aku harus berterus terang bahwa aku mengajaknya kencan, merayakan hari jadi kami. Aish itu benar – benar bukan gayaku. Aku lebih senang menariknya paksa seperti ini. Lebih menyenangkan melihat wajah kesalnya itu. Sudah kubilangkan aku sangat..sangat..suka melihat wajah kesalnya.

“Naiklah, temani aku makan setelah itu aku antar ketempatmu bekerja.” Ujarku seraya memberikan helm kepadanya.

“Kenapa kau seenaknya memerintahku hah? Aku tidak mau menemanimu.” Tolaknya.

“Kau pacarku, temani aku.” Ucapku sambil memasangkan helm dikepalanya.

“Hah sejak kapan aku jadi pa-”

“Naik!!!” aish apa dia tidak tahu kalau dua orang sudah berciuman itu artinya mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.

“Pegangan yang erat.”

“Aku sudah pegangan.” Cih, Dia kira memegang ujung tasku itu disebut berpegangan.

“Pegangan padaku bodoh.”

“Tidak mau.”

“Kalau begitu jangan salahkan aku kalau kau terbang dibawa angin ya.”

“Cih, kau kira aku ini apa.” Dia memukul kepalaku. Terserahlah, tapi aku pastikan setelah motor ini meluncur, dia akan mengeratkan pegangannya padaku.

BRUM!!

BRUUUUUMMMM!!

“KYAAAAA!! Cho Kyuhyun! Pelankan motormu, Aku belum mau mati, kalau kau mau mati jangan ajak-ajak aku.”

Ha,,ha,,ha,,benarkan yang aku perkirakan. Dia bahkan benar-benar memelukku dengan erat.

“Hey mau sampai kapan kau memelukku seperti itu hah!! Kita sudah sampai.” Sepertinya ucapanku menyadarkannya, segera saja dia melepaskan tangannya yang mengalung indah dipinggangku.

“Kau mau makan atau mau menghabiskan uangmu hah!!.” Tanyanya heran melihatku membawanya kerestoran mewah.

“Aku tidak akan jatuh miskin hanya karna makan disini bodoh.”

“Kenapa kau masih diam saja, ayo masuk.” Aku menariknya masuk kedalam.

“Kau mau pesan apa?” tanyaku begitu seorang pelayan menghampiri meja kami.

“Kau pesan apa?” tanyanya padaku. Terlihat sekali dia bingung dengan tulisan dimenunya.

“Suutt, kau yakin makan disini, lihat makanan disini benar-benar mahal.” Ucapnya padaku. Tch, dasar gadis aneh, inikan hari special. Masa dia tidak menyadarinya. Aku bahkan rela menghabiskan uangku demi membuatnya bahagia.

“Kau ini benar-benar memalukan. Kalau begitu biar aku yang pesan.” Aku menyerah, dia benar-benar tidak bisa diajak romantis.

“Escargot 2” ucapku pada pelayan yang berdiri disampingnya.

“Eh, apa esca..esca.. ah pokoknya yang kau sebut tadi itu sejenis es krim, kalau begitu aku yang strobery saja.” MWO!!!…rasanya aku ingin sekali menertawakannya, tapi demi menjaga suasana, aku menahan kuat tawaku agar tidak membahana, dan hasilnya bibirku bergerak-gerak tidak jelas.

“ish, kau ini benar-benar kampungan.” Ucapku sambil tersenyum tak jelas kearahnya

“Aku bukannya kampungan, aku hanya belum pernah makan ditempat seperti ini. Lagi pula kau itu aneh, tadi bilang kau lapar kenapa malah memesan es krim. Kalau hanya makan es krim aku tau tempat yang enak dan yang pasti lebih murah dari disini.” Ucapnya padaku.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, seorang pelayan mengantarkan makanan yang dipesanku tadi.

“Iyh ini makanan apa.” Ucapnya sambil menunjuk makanan yang terhidang dimeja.

“Kau yakin memesan ini, ini tidak terlihat seperti es krim, ini aneh, ini men..ji..jik..kan.” ucapnya sepelan mungkin padaku

“Kau coba saja dulu, ini enak.” Ucapku sambil menyuapkan makanan tadi kemulutku.

“Ini untukmu saja, aku tiba-tiba merasa kenyang.” Ucapnya padaku sambil menyodorkan makanan aneh itu kehadapanku.

“Kau tidak mau mencoba?” tanyaku yang dijawab dengan gelengan kepala olehnya. Huft..ya sudahlah. Dasar gadis aneh.

“Antar aku ketempat kerja.” Ucapnya padaku begitu keluar dari restoran.

“Emmm…Tempat kerjamu di-”

KRUUYUUKK….

Eh, suara apa itu. Apa itu suara perutnya??. Cih, dasar gadis bodoh, sudah tahu lapar kenapa tadi bilang kenyang.

“Heh bunyi apa itu, perutmu? tadi kau bilang kenyang kenapa perutmu bunyi?” Tanyaku.

“eh,ne,ti-tidak itu bukan suara perutku.” Ucapnya terbata-bata.

KRUUYUUKK…. KRUUYUUKK….

“Cih, sudah jelas-jelas kau kelaparan, masih mau berbohong. Kau mau makan apa?” Tanyaku.

“Ne?”

“Cepat naik, aku antar kau makan.”

“Aku mau makan disitu.” Tunjuknya pada kedai dipinggir jalan.

“Kau yakin makan disana?” tanyaku yang dijawabnya dengan anggukan.

“Ajumma, aku pesan 1 ya.” ucapnya begitu duduk dikursi.

“Ne, Min Ra`ya.” Balas ajumma.

“Kau kenal dengan bibi penjualnya?” tanyaku heran.

“Ne, hampir setiap hari aku makan disini, he..”

“Wahh,,ini pasti lezat, aku sangat lapar. Mari makan.” Ucapnya tersenyum senang begitu makanan yang dia pesan datang. Aish lagi-lagi aku terpesona oleh senyumnya.

“Kau tidak mau?” tanyanya padaku yang bengong melihatnya makan. Dia benar-benar kelaparan tingkat akut sepertinya.

“Kau tidak makan berapa hari?” tanyaku padanya.

“He..he..haunya behlum mahkan dahri tadhi paghi (hanya belum makan dari tadi pagi).” Ucapnya dengan mulut penuh jajangmyon. Ish,,kenapa dia begitu menggemaskan.

“ish kau ini jorok sekali.” Yak mulut bodoh, kenapa malah kata-kata itu yang keluar. Tidak bisakah kau mengeluarkan kata-kata yang ada dipikiranku. Mengatakan kalau dia terlihat sangat menggemaskan. Berkata bahwa kau menyukainya, menyukai sikapnya yang cuek dan apa adanya dihadapanmu.

“Ajumma, Aku pesan satu lagi.” Ucapnya yang membuatku sedikit tercengang. Aish, kenapa tidak dari tadi saja dia mengajakku makan disini. Bukankah kalau kami makan bersama akan terlihat lebih..apa ya, mungkin romantis, ha,,ha,, mungkin aku bisa menyuapkannya beberapa jajangmyon dipiringku. Aish membayangkannya saja membuat jantungku berdebar begini.

“Kau benar-benar gadis aneh. Apa kau tidak malu makan begitu rakus dihadapan seorang namja, apalagi namja tampan sepertiku?” tanyaku. Aish, sebenarnya tanganku gatal ingin menggantikan tangannya yang menyuapkan jajangmyon itu kemulutnya.

“Untuk apa aku malu, kalau aku malu aku tidak akan kenyang.” Ucapnya cuek.

Aku melirik jam ditanganku. Aish dasar gadis bodoh, bukankah tadi dia bilang dia mau bekerja. Ini sudah jam berapa. Bagaimana kalau dia telat. Bagaimana kalau sampai dia dihukum ditempat kerjanya. Bagaimana kalau sampai dia dipecat. Aish kalau sampai itu terjadi, aku pasti akan menyalahkan diriku.

“Tch,,! Ya bodoh! Kau mau makan sampai kapan? Memang kau tidak jadi kerja?” WAA..lagi-lagi mulut bodoh ini berkata seenaknya.

Dia terlihat kaget dan memakan dengan cepat jajangmyon yang tersisa dipiringnya, sampai-sampai tidak menyadari ada sisa jajangmyon disudut bibirnya. Dan tanganku yang pintar ini dengan cepat menyentuh ujung bibirnya. Saat melihat wajahnya yang kaget karna sikapku barusan, membuat kedua ujung bibirku melengkung membentuk sebuah senyuman.

“Kau ini seperti anak kecil saja, makan sampai belepotan begini.” aku masih mengelap lembut ujung bibirnya. “Nah sudah, ayo pergi.” Ajakku.

“…….”

“Kenapa bengong. Ayo pergi.” Kenapa dia jadi begong begini. Apa pesonaku begitu kuat ha..ha..

“……”

Aish sepertinya pesonaku ini benar-benar kuat. Buktinya sudah kupanggil-panggil tapi dia tetap tidak merespon. Sudahlah kutarik saja tangannya.

“YA! Sakit!! Baru beberapa detik yang lalu kau membuatku gugup karna sikap baikmu padaku, sekarang sifat aslimu keluar.” Ucapnya yang membuat langkahku terhenti dan langsung berbalik menghadapnya. Mungkin karna aku berhenti tiba-tiba dan kakinya yang tetap melangkah membuat wajahnya menumbur dadaku. Tapi sebelum dia sempat memundurkan badannya, aku sudah menahan punggungnya dengan tanganku. Dan tiba-tiba saja aku sudah memeluknya erat. Aku ingin memastikan apa ucapannya tadi benar. Andai dia tau pengaruh ucapannya barusan pada jantungku. Jantungku bahkan nyaris berhenti berdetak.

“Kalau seperti ini apa yang kau rasakan?” aku mencoba bertanya padanya.

“………”.

“Apa jantungmu berdebar keras? jantungku bahkan nyaris berhenti berdetak.” Ucapku meyakinkannya.

“………”.

“Kau tidak mendengarku?”

“Y-Ya,, JANTUNGKU, JANTUNGKU….” Teriaknya sambil berusaha melepaskan pelukanku.

“Eksperesimu lucu sekali, lihat wajahmu sampai memerah begini.” Ucapku sambil menyentuh pipinya. “Dan sepertinya kau harus belajar mengendalikan jantungmu.” Bisikku ditelinganya kemudia tersenyum lebar. Aku yakin sekarang kalau perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.

“A-apa maksudmu?”. tanyanya.

“Belajarlah mengendalikan jantungmu, karna sepertinya aku akan sering-sering untuk memelukmu.” Ucapku dengan tersenyum jahil. “Ayo kau sudah telat kerja.” Kugenggam tangannya lembut. Menikmati saat jari-jariku bersentuhan dengan jemarinya.

********************

Saat aku tengah melintas di koridor sekolah yang sepi tidak sengaja aku melihat Minra sedang berlari. Tidak bukan berlari, lebih tepatnya di kejar Kang Songsaengnim. Kenapa dia? Apa dia membuat masalah lagi? Apa dia tidak bosan hampir setiap hari membuat masalah.

Begitu dia mendekat, aku langsung menarik tangannya dan membekap mulutnya.

“Emmmpphhh…” sepertinya dia terkejut dengan aksiku.

Tak lama terdengar suara langkah orang berlari mendekat kearah sini.

“Sssstttttt…” aku mencoba mendiamkannya.

“Kemana larinya anak itu.” Kudengar suara Kang Songsaengnim yang semakin mendekat. Dengan sigap aku menariknya untuk bersembunyi dibelakang semak-semak yang tumbuh dipinggir koridor.

TRAP..TRAP..

TRAP..TRAP..

Suara langkah kaki itu semakin menjauh, hingga akhirnya perlahan-lahan menghilang.

“Emmmpphhh…” Minra berusaha melepas bekapan tanganku dimulutnya.

Dengan segera aku melepaskan tanganku.

“Terim-, Kyuhyun!” dia kaget sekali sepertinya begitu tahu aku yang menolongnya..

“Masalah apa lagi yang kau buat sampai-sampai Kang Songsaengnim mengejarmu?” tanyaku.

“Eh, bukan masalah besar. Aku hanya tidak sengaja melempar bola basket hingga mencium wajahnya.” Ujarnya sambil tersenyum. MWO, bukan masalah besar dia bilang!!.

“Dasar kau ini. Hampir setiap hari kau membuat masalah. Aku heran kenapa aku bisa menyukai gadis sepertimu.” Ucapku langsung dihadapannya.

“Ya! Jangan bercanda.” Ish dia pikir aku ini bercanda apa.

“Aku tidak bercanda. Mana mungkin aku memintamu menjadi pacarku kalau aku tidak menyukaimu.” Bisa kulihat wajahnya sedikit memerah.

“Ta-tapi kitakan tidak pacaran” Ucapnya lagi.

“Tch, kau tidak ingat dengan kejadian didepan toilet beberapa hari yang lalu? Apa perlu aku ingatkan sekarang?” ucapku sambil mendekatkan wajahku.

”Y-Ya..aku ingat!” ucapnya cepat. Hahaha..wajahnya seperti tomat. Benar-benar menggemaskan.

”Ish..Dasar gadis bodoh!” ucapku sambil menoyor kepalanya. “Aish sudahlah. Percuma berbicara dengan gadis bodoh sepertimu. Dengarkan ucapanku ini karna mungkin hanya 1 kali ini aku akan mengucapkannya. Mulai sekarang belajarlah menatapku, hanya menatapku. Karna akan kupastikan hari ini, esok, dan hari-hari selanjutnya aku hanya akan menatapmu. Belajarlah untuk mencintaiku sedikit demi sedikit karna akupun akan melakukan hal yang sama. Aku akan mencintaimu sedikit demi sedikit, karna dengan begitu aku masih mempunyai banyak cinta untuk kuberikan padamu dihari-hari selanjutnya.” ucapanku terhenti tepat saat aku melumat lembut bibirnya. ”Kenapa kau tidak membalas ciumanku” tanyaku disela-sela ciuman. Tak lama ia membalas ciumanku. Kkk…sudah kukatakan kau pasti akan jatuh cinta padaku.

”Kau tahu itu ciuman keduaku.” ucapnya begitu aku melepaskan ciumanku.

”Memang ciumanmu yang pertama kapan?” tanyaku dengan wajah inocent.

”Aishh,,sudahlah tidak usah dibahas.” ucapnya ketus. Aku tersenyum jahil. Apa susahnya sih bilang aku yang merebut ciuman pertamanya. Baiklah kalau kau tidak mau mengaku, aku saja yang mengaku.

”Itu juga ciuman keduaku.” ucapku sambil mencium bibirnya (lagi). ”Dan ini yang ketiga.” ucapku sambil tertawa, sedangkan dia hanya bisa terdiam.

”Apa perlu kucium lagi agar kau sadar” ucapku menggodanya.

”MWO…” jeritnya kaget.

”Ha,,ha,,wajahmu lucu sekali. Ya sudah aku pergi dulu.” ucapku yang dibalas anggukannya.

Kupegang dadaku yang berdetak keras. Kenapa setiap berada didekatnya aku tidak bisa mengendalikan degub jantungku. Oh, aku bahkan merasa jantungku berhenti berdetak saat menciumnya tadi. “Awh..” aku menepuk-nepuk kedua pipiku. Mencoba menormalkan kembali tubuhku.

********************

BRUMM..!!BRUM…!!BRUM..!!

Aku menghampirinya yang tengah berjalan sendirian. Dia seperti orang bodoh, bagaimana mungkin bicara sendiri sambil mengacak rambutnya.

“Kau kenapa berteriak dan mengacak-acak rambutmu seperti orang gila he?” tanyaku dari atas motor.

“Bukan urusanmu.” Ucapnya ketus. Aish dia ini tidak bisa diajak bercanda.

“Ya sudah kalau bukan urusanku.” Ucapku setengah kesal sambil memandanginya.

“Kenapa kau terus memandangiku?” Ucapnya memecah keheningan.

“Cantik.” Aish, kenapa kata-kata itu keluar begitu saja. Apa aku begitu terpesonanya dengannya. Aish kalau dia bertanya apa maksudku, aku harus jawab apa.

“Ma-maksudmu?” ah, benarkan apa yang aku pikirkan. Ayolah Cho Kyuhyun cari alasan untuk menghindari pertanyaannya.

“Cantik. Lihat bunga yang dibelakangmu itu cantikkan.” Ucapku setengah gugup.

“MWO, bu-bunga.” Dia terlihat kaget dan entahlah, seperti ekspresi kecewa saat aku berkata bunga bukan dirinya. Ah itu membuat rasa gugupku lenyap dan digantikan dengan perasaan ingin menggodanya.

“Kenapa kau kaget begitu, apa kau mengira aku mengucapkan kata itu untukmu.” Ucapku dengan senyum jahil.

“Tidak.”ucapnya sambil mengalihkan wajahnya dariku, tapi sekilas aku sempat melihat wajahnya yang memerah. Aish gadis ini, membuatku semakin semangat menggodanya.

“Kau kenapa tidak pulang, betah sekali berdiri dipinggir jalan seperti ini. Apa kau mengharapkan aku mengajakmu pulang bersama makanya kau tidak beranjak dari sini?” Aku menggodanya lagi.

Dia terlihat kesal dan berjalan meninggalkanku.

”Dasar telur kodok, cicak belang, ayam hutan, singa botak, bebek bunting eh, bebek bunting g ya? Kalo g bunting ya dibunting-buntingin aja deh, pokoknya demi semua binatang tadi dia benar-benar menyebalkan” Ha..ha..ha…gerutuan macam apa itu. Dasar gadis bodoh.

TIN..TIN..

Aku membunyikan kelakson motorku, aku ingin minta maaf sudah membuatnya kesal. Salah sendiri kenapa setiap ekspresi yang dikeluarkannya semakin menambah keimutannya. Jadi jangan salahkan aku kalau aku sangat senang menggodanya.

“Ayo kuantar, ini sudah sore. Lagi pula cuacanya mendung, sepertinya akan hujan. Maaf tadi aku hanya bercanda. Habis aku sebal padamu, aku sengaja menunggumu untuk pulang bersama, tapi saat aku mendekatimu kau malah bersikap ketus dan mendiamkanku.” Ucapku sambil memberikan helm kepadanya.

”Tidak, aku naik bis saja.” Ujarnya sambil berlalu pergi. Aish apa dia marah padaku??

“Ayolah naik, akukansudah minta maaf padamu.” Ucapku membujuknya sambil menyamakan langkahnya dengan motorku.

”Tidak.” Katanya ketus.

”Baik, kalau dengan cara baik-baik kau tidak mau terpaksa aku melakukan dengan caraku.” ucapku sambil turun dari atas motor.

”Y-ya apa yang mau kau lakukan hah! Awas kalau kau berani macam-macam aku akan berteriak sekuat mungkin.” Dia terlihat panic. Yak, memangnya aku mau melakukan apa? Apa aku terlihat seperti ajussi-ajussi mesum begitu. Ish menyebalkan.

Aku semakin mendekatkan wajahku kearahnya.

”M-mau apa kau?!” ucapnya terbata-bata. Dan saat wajahku sudah benar-benar dekat dengan wajahnya, dengan cepat tanganku merogoh tasnya dan mencari sesuatu. Ah, ini dia. Ternyata tidak sulit mencarinya.

“Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya ingin tahu apa kau tetap bisa pulang kalau dompetmu saja ada padaku.” Ucapku sambil mengacungkan dompet birunya dan menaruhnya disaju bajuku.

“Kembalikan dompetku.”

“Kau hanya punya dua pilihan, berjalan kaki sampai kerumahmu atau “ aku menepuk-nepuk jok belakang motorku.

Awas saja kalau sampai dia tetap tidak mau ku antar pulang. Sia-sia saja usahaku tadi. Tapi saat dia berjalan mendekat, aku bisa merasakan aura kemenanganku. Akhirnya mau juga dia kuantar.

”Kansudah kubilang kalau naik motor kau harus memegangku dengan erat.” ucapku sambil menarik tangannya dan mengalungkannya dipinggangku, membuatnya merapat kearahku. Nyaman sekali rasanya saat dia memelukku erat seperti ini. Aku bahkan dapat merasakan detak jantungnya dipunggungku.  Dengan segera aku memacu motorku menuju rumahnya.

”Apa punggungku sangat nyaman?” aku menyadarkannya setelah 5 menit lebih aku membiarkannya tetap memelukku. Sebenarnya tidak rela juga membiarkan pelukannya terlepas, tapi ini sudah sore dan mau hujan. Jadi mau tidak mau aku harus segera menyuruhnya masuk kerumah.

Dia segera turun dari motorku dan menyerahkan helmnya kepadaku, tapi sebelum itu terjadi aku buru-buru menyelanya.”Kau simpan saja helmnya. Besok jam 7 pagi kau harus sudah siap.”

”Hahh, jam 7 pagi? Siap?” dia terlihat bingung mendengar ucapanku.

”Mulai besok kita pergi sekolah bersama.”

”Ki-kita?????”

”Emm..mulai besok kau pergi kesekolah bersamaku.” Aku melihatnya yang berbalik memunggungiku dan mulai melangkahkan kakinya menuju kerumahnya.

”Hei, kemari sebentar” panggilku sambil menggoyangkan telunjukku. Sepertinya tidak apa-apa kalau aku memberikan ucapan terima kasihku untuk hari ini.

”We?” ucapnya begitu sudah dihadapanku.

Aku mendekatkan wajahku kearahnya dan mengecup singkat pipinya. Setelah itu buru-buru aku memakai helm dan memacu motorku meninggalkannya. Aku tidak mau dia sampai melihat wajahku yang memerah. Diatas motor aku senyum-senyum sendiri mengingat ulahku yang mengecup pipinya tadi. Sebenarnya aku ingin sekali melihat ekspresinya, tapi aku malu kalau dia melihat wajah merahku. Ah, mulai besok aku akan berangkat kesekolah bersamanya. Mengingatnya membuat aku tidak sabar menantikan hari esok.

Begitu tiba dikamar, langsung kurebahkan tubuhku diranjang. Pikiranku langsung melayang kekejadian beberapa waktu yang lalu.  Ah, kenapa aku sudah merindukannya lagi, padahal baru beberapa menit yang lalu bertemu. Kurogoh sakuku dan kukeluarkan handphone-ku. Aku memencet beberapa digit angka yang sudah kuhapal diluar kepala, terlihat dilayar muncul nama Minra_Kyu.

”Yeoboseyo” ucap seseorang diujungsana.

”Ini aku Kyuhyun, besok kujemput kau jam 7 pagi jangan telat.. Dan emm,,,selamat istirahat jagi..” klik. Teleponnya langsung kuputus. Astaga, padahal aku mengucapkannya di telephon, tapi kenapa bisa sampai membuat jantungku berdetak begini. Minra`ya sepertinya aku benar-benar tergila-gila padamu. aku yakin yang aku rasakan ini cinta. aku benar-benar mencintaimu Minra`ya.. Ra`ya ku..saranghae..

ah, indahnya jatuh cinta……!!!!

Iklan

4 thoughts on “Inikah rasanya cinta (Kyuhyun POV)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s