True love 01

 

 

PRANGG…

Aku hanya bisa memandangi beberapa ajussi dihadapanku dengan tatapan benci, bagaimana bisa mereka menghancurkan seluruh isi rumahku dengan seenaknya.

“YAK!!! Cepat katakan dimana appamu?? Atau kau ingin kami menghancurkan seluruh isi rumahmu??” salah seorang ajussi mendekat sambil mengacungkan telunjuknya kearahku.

“Ajussi, meskipun kau menghancurkan rumahku sekalipun, kalian tidak akan menemukan appaku. Dia sudah tidak pernah pulang kerumah sejak seminggu yang lalu.” Kuberanikan mataku untuk menatap ajussi-ajussi itu. Sebenarnya nyaliku menciut melihat otat-otot besar di tubuh mereka. Tapi inikan rumahku. Aku punya hak atas rumah ini. Bagaimana bisa mereka bersikap seenaknya seperti ini padaku?? Aku tidak terima!!

“Cih berani juga kau bocah!!” Yak bocah???? Enak saja, aku ini seorang gadis yang sudah berusia 21 tahun. Enak saja memanggilku bocah.

“Sebaiknya kalian cepat pergi dari rumahku.” Aku sudah tidak bisa menahan marahku lagi.

“Heh bocah, sebelum appamu melunasi hutangnya, rumah ini aku sita.” Ajussi yang berdiri paling dekat denganku melempar beberapa kertas kearahku.

“Itu adalah tagihan hutang appamu. Dan aku tak peduli , kau atau appamu harus membayar lunas semuanya.”

“Yak ajussi, kalau rumah ini kau sita , aku tinggal dimana?” Air mataku mengalir begitu saja.  Apa yang harus aku lakukan, aku tidak punya saudara disini, aku mau tinggal dimana??


“Aku tidak perduli kau mau tinggal dimana. Cepat kemasi barang-barangmu, dan ingat jangan membawa benda – benda berharga dari rumah ini.” Ajussi itu mendorongku sehingga menyebabkan sikuku bergesekan dengan lantai, dan itu sedikit perih.

Aku masuk ke kamarku, mengambil pakaianku dan sebuah foto yang terpajang di meja kamarku. Fotoku beserta kedua orang tuaku. Difoto itu tampak sekali aura kebahagiaan. Berbeda sekali dengan saat ini. Aku mengusap-usap gambar ommaku. Aku sangat merindukannya. Sejak omma meninggal 3 tahun lalu, appa jadi berubah, appa seperti tidak bersemangat menjalani hidupnya. Sampai – sampai Perusahaan yang appa kelola bangkrut, dan appa akhirnya terlilit banyak hutang.

Appa, sekarang kau ada dimana? Aku takut appa, aku tidak tahu harus kemana sekarang??

Aku menarik koper berisikan pakaianku, kulihat didepan kamarku mereka sudah menungguku. Bisa kulihat salah satu dari ajussi itu sedang menelpon seseorang yang kuyakini bos mereka, karna dari suara dan gerak tubuhnya terlihat sekali dia sangat segan dan hormat pada orang yang tengah di telponnya.

“Kalau kau sudah selesai berkemas, kau bisa pergi sekarang. Dan ingat kau harus membayar hutang appamu, karna walaupun rumah ini dijual sekalipun itu tidak akan cukup untuk melunasi hutang appamu.” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya mengangguk pasrah.

Kupandangi sekali lagi rumahku, mungkin ini terakhir kalinya aku menginjakan kakiku disini. Kupandangi lekat-lekat tiap sudut rumahku. Rumah yang sudah kutinggali sejak aku lahir, rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan. Aku benar-benar tidak rela rumah ini disita oleh mereka. Aku bertekad pada diriku sendiri, bahwa aku akan mengambil kembali rumah ini, karna hanya rumah ini satu-satu nya tempat yang penuh dengan kenangan kebahagiaanku dan juga kenanganku dengan omma.

Kubiarkan kakiku melangkah membawaku menelusuri  jalanan kota Daegu, walau entah kemana. Air mataku tak berhenti mengalir memikirkan nasibku saat ini. Diusir dari rumah sendiri, dipaksa bayar hutang, dan yang lebih parah lagi ditinggal oleh appa yang tidak tahu entah berada dimana sekarang. Aku memeriksa tas dan dompetku, memastikan apakah ada uang yang cukup untuk mencari penginapan malam ini. Aish jangankan untuk penginapan, uang yang ada di dompetku hanya cukup untuk membeli beberapa mangkuk ramyon saja. Sungguh benar-benar malang nasibku.

Aku merogoh sakuku mengeluarkan ponsel. Mataku menelusuri nama-nama di kontak, begitu kutemukan nama yang kucari, langsung ku tekan tombol hijau. Tak lama terdengar sahutan dari seberang sana.

“Hallo….”

“Enjung`a, bisakah aku meminta bantuanmu.” Ada nada bergetar saat aku bicara.

“Kau kenapa Minra`ya?? Kau menangis?? Kau dimana sekarang?? Cepat katakan, jangan membuat ku panik!!” Enjung tampak menghawatirkanku.

“A..aku di minimarket dekat rumahmu.” Ucapku sesegukan, aku benar-benar tidak bisa menahan tangisku.

“Tunggu aku. Kau jangan kemana-mana.” Enjung setengah memerintah.

Aku mengangguk mengiyakan ucapan Enjung, tetapi sesaat aku sadar bahwa dia tak mungkin melihat anggukanku. “Ne.” ucapku akhirnya.

Sambil menunggu Enjung, aku berniat membeli secangkir kopi untuk menghangatkan tubuhku. Ini sudah memasuki musim dingin, dan aku sudah hampir 2 jam terluntang lantung dijalan tanpa pakaian yang cukup tebal. Kurogoh saku celanaku mencari uang untuk membeli kopi. Aku menunduk mengambil cangkir kopi yang kubeli tadi, sesaat aku menempelkan telapak tanganku pada sisi cangkir, mencari kehangatan dari sana. Aku berdiri dan membalikkan tubuhku, namun sial. Ternyata dibelakangku ada seseorang dan kami bertumburan, mengakibatkan kopi yang kupegang tumpah dibajuku dan setengahnya tumpah mengenai bajunya.

Ais aku mengumpat kesal, adakah hari yang lebih buruk dari ini?? Atau adakah kejadian buruk berikutnya hari ini?? Aku bangkit dari dudukku dan bermaksud menumpahkan kekesalan pada orang yang menabrakku tadi. Kudongakkan kepalaku, ternyata seorang namja. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya karna ia menutupi wajahnya dengan masker, juga syal tebal yang melingkari lehernya membuat wajahnya benar-benar tidak kelihatan, hanya matanya saja yang terlihat. Kulihat ia tengah merapihkan kemejanya yang tertumpah cairan kopi cukup banyak, masa bodo dengan kemejanya, itu tadi salahnya yang menabrakku. Baru saja aku mau membuka mulutku untuk mengomelinya. Ternyata dia yang lebih dulu memarahiku.

“YAK nona.. kalau jalan pakai matamu. Bagaimana bisa kau menabrakku.” Ocehnya. Mwo,, kenapa dia jadi menyalahiku, seharusnya dia yang minta maaf karna menabrakku, bukan marah-marah seperti ini. Dasar ajussi tidak punya sopan santun.

“Yak,,ajussi,, aku tidak tahu kau ada dibelakangku. seharusnya bukan kau yang marah-marah tapi aku. Kau yang tidak melihatku dan menabrakku. Dan satu lagi, aku berjalan dengan kakiku bukan dengan mataku.” Aku benar-benar kesal dengan ajussi ini.

“MWO..Ajussi!!!!! yak dasar tidak sopan. Aku bukan ajussi, aku masih muda. Umurku saja masih 24 tahun.” Cih apa peduliku.

“Jangan salahkan aku memanggilmu ajussi. Tapi salahkan wajahmu itu yang terlihat boros.” Ucapku sambil berlalu darinya. Daripada aku makin kesal didekatnya.

“Aishh…yak aku ada urusan penting ini. Bajuku. Bagaimana ini?? Yak..kau jangan pergi begitu saja. Bagaimana dengan bajuku yang penuh cairan kopimu. Kau harus menggantinya.” Ucapnya sambil menahan tanganku.

“Yak..ajussi mesum. Jangan pegang-pegang. Singkirkan tanganmu.” Hardikku.

“Mesum? Yak enak saja mengataiku mesum?” ucapnya sambil membulatkan matanya dan menatapku tajam.

“Kalau kau memang tidak mesum kenapa pegang-pegang.” Hardikku.

“Terserah kau mau bilang apa. Dasar gadis aneh. Jelas-jelas salah malah menyalahkan orang lain.” Dia betah sekali memarahiku. “Sudahlah percuma aku bicara padamu hanya membuang waktuku.” Ucapnya sambil melihat jam dipergelangan tangannya. “aish aku hampir terlambat.” Umpatnya pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Setelah itu ia berlari meninggalkanku. Dasar ajussi aneh.

 

***

 

“MINRA`YA!!!!!!!!!!…” aku menoleh keasal suara. Saat tahu bahwa Enjung yang memanggilku, aku langsung berlari menghampirinya. Begitu didekatnya aku langsung memeluknya.

“Kau kenapa? Kenapa membawa koper segala? Apa ada masalah? Kau diusir dari rumah atau kabur dari rumah?” Enjung memberondongku dengan banyak pertanyaan yang membuatku bingung mesti menjawab yang mana dulu.

“Ya!! Kalau bertanya satu-satu, aku pusing mesti menjawab yang mana dulu.” Ucapku sambil melepaskan pelukanku darinya.

“Jadi ada apa denganmu” Tanya Enjung penuh selidik.

Aku menceritakan semua yang terjadi, mulai dari appa yang menghilang entah kemana, sampai kejadian aku diusir dari rumahku sendiri.

Setelah menceritakan semuanya, Enjung mengajakku kerumahnya. Aku bersyukur, setidaknya ada seseorang seperti Park Enjung yang masih mau menerima ku meski keadaanku seperti sekarang ini.

 

***

 

Author POV

 

“Minra`ya, lusa aku akan pergi ke Seoul. Apa kau mau ikut?” Enjung menatap Minra yang tengah membaringkan tubuhnya diranjang.

“Seoul?” Minra mengubah posisinya menjadi duduk.

“Ne. aku ingin mencari pekerjaan disana. Kalau kau mau ikut kau juga bisa mencari pekerjaan disana. Tapi kalau tidak, kau bisa tinggal disini bersama omma dan appa.”

“Seoul.” Ulang Minra. Dengan pergi ke Seoul dan mendapatkan pekerjaan bukankah dapat membuatnya memiliki uang dan bisa mengambil kembali rumahnya yang disita.

“Baiklah, sepertinya aku harus mencari uang yang banyak kalau ingin rumahku kembali.” Ucap Minra penuh semangat.

Enjung tampak senang melihat perubahan raut wajah Minra yang sekarang terlihat lebih bersemangat.

“Benar, kita akan mencari uang yang banyak dan mengambil kembali rumahmu yang disita.” Enjung ikut menyemangati Minra, dan mereka ber high-five ria.

 

***

 

“Dasar gadis tidak sopan. Kalau aku tidak buru-buru sudah kuminta ia untuk ganti rugi, karna ulahnya tadi pakaianku jadi kotor seperti ini.” Umpat seorang namja yang tadi bertabrakan dengan seorang yoeja yang menyebabkan pakaiannya tertumpah kopi dan meninggalkan noda yang cukup besar dikemejanya. Perlahan ia melepaskan masker yang dipakainya begitu memasuki area bandara yang bersuhu lebih hangat dari suhu diluar tadi dan membuangnya ketempat sampah yang berada tak jauh darinya.

“Hyung.. Kyuhyun Hyung”  Panggil seseorang membuat pria ini menolehkan kepalanya. Senyum terkembang diwajahnya saat melihat seseorang yang memanggilnya tadi.

“Min Woo`ya.. ah syukurlah, kukira aku terlambat.” Ucap pria yang bernama Kyuhyun ini tanpa menghilangkan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Mwo??” Min Woo terlihat bingung dengan ucapan Kyuhyun.

“Aku kira aku terlambat menahan nunamu untuk tidak pergi meninggalkanku. Dia masih disinikan? Pesawatnya belum berangkat kan? Lebih baik aku menemuinya sekarang sebelum semuanya terlambat. Kau juga mau menemuinya kan? Ayo kita temui nunamu bersama.” Ucap Kyuhyun sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Min Woo yang kini raut wajahnya telah berubah setelah mendengar ucapan Kyuhyun tadi, namun Kyuhyun tidak menyadarinya.

“Kau terlambat Hyung.” Ucap Min Woo pelan, namun masih bisa didengar Kyuhyun. Membuat langkah kaki Kyuhyun berhenti dan ia segera membalikkan tubuhnya menghadap Min Woo.

“Pesawat Hyo nuna baru saja pergi, dan ia menitipkan ini untukmu hyung.” Min Woo menyerahkan kotak berwarna coklat ketangan Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun hanya terdiam sambil menerima kotak yang diberikan Min Woo padanya.

“Aku duluan Hyung.” Ucap Min Woo dan pergi meninggalkan Kyuhyun sendiri.

 

***

 

Kyuhyun memandangi kotak coklat yang ada dihadapannya. Ia duduk dalam diam dan matanya tak lepas dari kotak dihadapannya itu. Bosan hanya melihat saja, Kyunyun membuka kotak coklat itu dengan perlahan. Dilongokkan kepalanya kedalam kotak. Mata Kyuhyun terbelak lebar melihat isi didalam kotak tersebut, bagaimana tidak. Ia merasa sangat familiar dengan isi kotak tersebut. Isi kotak itu ternyata barang-barang yang pernah ia berikan kepada Hyun Hyo. Diambilnya satu persatu barang-barang didalam kotak itu, sampai matanya menangkap sebuah kertas gulung yang diikat dengan pita berwarna merah muda.

Perlahan Kyuhyun membuka gulungan kertas yang ternyata sebuah surat, surat untuknya.

Maaf..

Maafkan aku..

Aku tahu, Mungkin kata ini tidak cukup untuk mewakili perasaanmu yang terluka karnaku. Tapi kumohon maafkan aku. Bukannya aku ingin lari dari ini semua, tapi dengan kepergianku kuharap kau dapat hidup lebih bahagia. Dan barang-barang ini, aku rasa aku tak pantas mendapatkannya.

Kumohon, hiduplah dengan baik tanpa aku disampingmu.

Yang pernah mencintaimu

Park Hyun Hyo.

 

Kyuhyun meremas kertas itu erat. Hatinya kembali terasa perih setelah membaca surat tadi. Sekelebat bayangan kekasihnya yang berselingkuh dengan sepupunya sendiri tiba-tiba muncul dipikirannya. Dibantingnya kotak coklat dihadapannya itu hingga isinya bertebaran dimana-mana. Ia seakan tidak peduli dengan barang-barang yang pernah diberikan untuk kekasihnya dulu. Dulu? Yah, semenjak mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan sepupunya sendiri, hubungan merekapun diputuskan Kyuhyun saat itu juga. Namun, saat mendengar mantan kekasihnya itu akan pergi, ada semacam perasaan mengganjal dihatinya, perasaan takut kehilangan. Tak masalah bagi Kyuhyun meski hubungan mereka berakhir, setidaknya ia masih bisa menatap gadis yang dicintainya itu setiap hari. Tapi mendengar ia akan pergi jauh, Kyuhyun merasa tidak rela.

Kyuhyun telah berusaha semampunya untuk menahan Hyun Hyo agar tidak pergi, namun keputusan Hyun Hyo tidak bisa diubah lagi. Dia merasa tidak pantas berada disamping Kyuhyun setelah apa yang telah diperbuatnya dibelakang Kyuhyun.

Kyuhyun menarik nafasnya perlahan, ia melipat kembali surat digenggamannya dan menyimpannya bersama barang-barang lainnya kedalam kotak coklat dihadapannya. Menutupnya rapat-rapat, seolah-olah ia tak ingin melihat barang-barang itu lagi.

Ia melangkahkan kakinya, mengambil tasnya yang terletak dipojok kamar hotel. Ia memutuskan untuk kembali ke Seoul dan kembali menjalani kehidupannya seperti semula, meskipun terasa berbeda, toh hidup harus tetap berjalan.

 

***

 

“Agh…akhirnya kita sampai juga si Seoul. Bangunan disini benar-benar megah. Kau lihat Minra`ya, gedung itu tinggi sekali.” Dengan semangat Enjung menunjuk bangunan yang dilihatnya paling tinggi diantara yang lainnya. Sedangkan Minra hanya menanggapi dengan senyuman melihat tingkah sahabatnya. Meskipun diakui Minra ini pertama kalinya ia ke Seoul dan ia pun merasa sangat takjub dengan pemandangan gedung-gedung bertingkat dihadapannya saat ini.

“emm..kau benar, pemandangan disini sangat indah.” Ucap Minra sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling. “Sebaiknya kita mencari penginapan Enjung`ah.”

“Ne kau benar. Ayo.”

Seakan tak menghiraukan hembusan angin yang cukup kencang dan dingin, serta beberapa ranting yang berjatuhan disepanjang jalan yang mereka lewati, Mereka berdua tetap semangat melangkahkan kakinya menyusuri jalanan Seoul, mencari penginapan atau setidaknya tempat tinggal untuk mereka tempati selama di Seoul.

 

***

 

“Minra`ya” Minra menghentikan gerakan tangannya yang tengah merapihkan pakaian-pakaiannya kedalam lemari di apartemen sederhana yang baru saja mereka sewa dan memilih menoleh pada Emjung yang tengah memanggilnya.

“We”

“Apa kau serius ingin tinggal di Seoul? Apa kau tidak ingin tahu dimana ayahmu”? pertanyaan Enjung sontak membuat Minra terdiam. Ia terlihat tengah memikirkan apa yang Enjung ucapkan. Tak bisa Minra pungkiri bahwa ia merindukan sosok ayahnya meskipun sikap ayahnya saat ini jauh dari harapannya.

“Entahlah, aku tidak tahu Enjung`ah. Saat ini yang kufikirkan hanya bagaimana mencari uang sebanyaknya dan menebus rumah yang disita oleh para rentenir itu.”

 

***

 

Udara malam Seoul yang dingin benar-benar menusuk. Hembusan angin yang kencang meruntuhkan dedaunan dan membawanya terbang entah kemana.

Seorang pria nampak setengah berlari menembus dinginnya malam. Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah yang sangat besar dengan pagar tinggi yang menutupi lebih dari setengah rumah itu. Tanpa menekan bel, ia menerobos masuk melewati beberapa orang yang berjaga didepan pintu pagar.

Ia melangkah mengitari seluruh tempat dirumah itu. Tak dihiraukannya beberapa pelayan yang membungkuk hormat dihadapannya. Matanya terus menjelajah kesekeliling, sampai dimana ia menemukan apa yang dicarinya.

“Omma,, Appa,, sudah ku katakan aku belum mau menikah. Apa kalian tidak paham!!!” pria itu berteriak kencang dihadapan dua orang yang dipanggilnya omma dan appa itu.

Kedua orang yang sepertinya orang tua dari lelaki tadi hanya terdiam menanggapi amarah anaknya. Sepertinya mereka sudah bisa menebak bahwa anak mereka akan berteriak-teriak seperti ini. Wanita paruh baya itu bangkit dari duduknya dan menghampiri anaknya perlahan. Ia menarik anaknya untuk duduk diselahnya.

“Kau sudah cukup dewasa untuk berumah tangga nak.”

“Aku tahu omma. Tapi untuk apa kalian mengirim begitu banyak wanita ke apartemenku? Kalian pikir aku tidak laku sehingga mendatangkan banyak wanita untuk aku pilih dan aku seleksi.”

“Bukan begitu sayang. Omma hanya ingin kau menemukan wanita yang cocok untukmu. Kau sendiri kan yang bilang tidak ingin dijodohkan, jadi satu-satunya jalan hanya membuatmu memilih salah satu wanita yang omma dan appamu rekomendasikan.” Wanita itu menjelaskan sambil meminum teh hangat dari cangkir Kristal dihadapannya.

“Aku tetap tidak mau omma. Aku belum mau menikah. Pokoknya aku belum mau menikah.” Lelaki itu bangkit dari duduknya. Ia perlahan beranjak meninggalkan ruangan.

“Kau akan tetap menikah. Suka atau tidak. Mau atau tidak.  Kau akan tetap  harus menikah. Kau harus memberikan aku cucu. TITIK.” Ucap lelaki paruh baya yang sepertinya ayah pria yang berteriak tadi.

Ucapan yang keluar dari mulut lelaki paruh baya ini sontak menghentikan langkah pria tadi. Namun sedetik kemudian ia melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah itu.

“Sudahlah, percuma aku bicara, kalian tidak akan mendengar ucapanku.” Lelaki ini berucap sambil meninggalkan kedua orang tuanya.

“YAK…Donghae,,Lee Donghae..mau kemana kau???” teriak lelaki paruh baya tadi.

“Aish dasar anak itu. Apa kita terlalu memanjakannya??” Tanya lelaki paruh baya itu pada wanita disampingnya.

“Entahlah suamiku. Aku harap Donghae mau untuk segera menikah.” Jawab sang istri.

Donghae melangkahkan kakinya dengan perasaan sebal. Ditendangnya kerikil-kerikil kecil yang ia temui disepanjang jalan. Sambil kakinya menendang, mulutnyapun tak berhenti mengeluarkan umpatan-umpatan kecil atas perbuatan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya yang ia anggap sangat berlebihan. Bagaimana tidak, beberapa hari yang lalu begitu ia pulang dari bekerja dan kembali keapartemenya bukan ketenangan yang ia dapatkan, tapi puluhan pasang mata yang menatapnya lekat. Donghae sontak membulatkan matanya, kaget dengan pemandangan yang terpampang dihadapannya. Dihadapannya kini terdapat kira-kira 10 orang gadis yang tengah tersenyum genit kearahnya dan seorang pria setengah baya yang sangat familiar baginya. Hwang Yoon Jae. Pria yang bekerja sebagai sekertaris ibunya itu kini tengah membungkuk hormat kepadanya. Sedikit menyesal ia karna memberitahukan password apartemennya kepada ibunya jika ia tahu akan ada kejadian seperti ini.

Donghae memperhatikan sekilas penampilan gadis-gadis dihadapannya. Ia sedikit bergedik ngeri melihat penampilan mereka. Make up yang tebal dan mencolok menghiasi wajah mereka, serta pakaian yang cukup seksi dan terbuka. Memangnya mereka tidak merasa risih apa dengan pakaian seperti itu. Juga apa mereka tidak merasa dingin dengan suhu udara yang cukup dingin di dalam apartemennya karna ia menyetel AC dengan suhu terendah.

Ia mengalihkan pandangannya dan kini menatap pria yang tengah berkutat dengan ponsel ditelinganya. Sepertinya ia tahu siapa yang sedang dihubungi oleh pria itu. Yah siapa lagi kalau bukan ibunya. Setelah melihat Yoon Jae telah mematikan ponselnya, Ia segera menarik pergelangan tangan Yoon Jae dan mengajaknya sedikit menjauh dari gadis-gadis itu. Ia menuntut meminta penjelasan atas apa tujuannya membawa banyak gadis ke apartemennya.

“Hyung apa maksudmu membawa banyak gadis keapartemenku?” Donghae bertanya menuntut.

“Maaf. Aku hanya menuruti perintah ibumu membawa mereka kemari. Ibumu bilang kau bisa memilih salah satu dari mereka untuk kau jadikan istri. Mereka adalah gadis-gadis terbaik pilihan ibumu.” Jelas Yoon Jae yang justru membuat kening Donghae berkerut.

“Jadi omma benar-benar tidak menyerah untuk menyuruhku segera menikah. Aish..” Donghae mengacak rambutnya frustasi.

“Sudahlah hyung, bawa mereka semua keluar dari apartemenku. Aku lelah dan aku ingin beristirahat. Dan bilang dengan orang yang menyuruhmu bahwa aku, Lee Donghae tidak tertarik sama sekali dengan gadis-gadis genit seperti mereka. Dan berhentilah bertindak seperti ini. Jika omma masih tetap melakukan hal seperti ini, aku sendiri yang akan datang dan berkata langsung dihadapannya.” Ucap Donghae yang dibalas anggukan oleh Yoon Jae. Tak lama Yoon Jae membawa pergi semua gadis-gadis itu keluar dari apartemen Donghae. Sempat terdengar ditelinga Donghae decakan para gadis-gadis itu saat dibawa keluar dari apartemennya, namun ia tak memperdulikannya.

Donghae kira kejadian kemarin adalah yang terakhir kalinya ibunya menyodorkan gadis-gadis untuk dia pilih. Ternyata ia salah besar. Karna saat ini, diapartemennya (lagi) ia mendapati banyak gadis yang berbeda dari yang kemarin tengah duduk manis disofa berwarna coklat diruang tamunya. Ia menatap geram Yoon Jae yang lagi-lagi membawa gadis-gadis itu kemari. Sedangkan Yoon Jae hanya bisa menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mengerikan dari Donghae. Donghae sedikit merutuki dirinya yang untuk kesekian kalinya lupa mengganti password apartemennya. Donghae mengepalkan tangannya kuat, ia menahan amarahnya yang berasa sudah diubun-ubun.  Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya kearah pintu. Membukanya perlahan dan menutupnya dengan kencang, menimbulkkan bunyi yang memekakan telinga, tapi ia tak peduli. Ia melangkahkan kakinya tergesa. Kini satu tujuannya, ia akan datang langsung kerumahnya dan berbicara dengan kedua orang tuanya.

“YAKkk…Bukh..Bukh..” suara teriakan itu sontak membuyarkan lamunan Donghae. Dengan cepat ia menajamkan pendengarannya dan mengedarkan pandangannya kesekeliling. Mencari dari mana asal suara jeritan tadi.

Merasa kembali mendengar teriakan tadi, ia melangkahkan kakinya menuju asal suara. Matanya menangkap seorang wanita tengah memukuli seorang pria dengan tas merah ditangannya. Terlihat pria itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menghindari wajahnya terkena pukulan tas dari wanita itu. Ingin rasanya Donghae menolong wanita itu, tapi entah kenapa kakinya ogah untuk ia gerakkan, dan matanya malah asik mengamati wajah wanita itu.

Wanita itu, atau lebih tepatnya seorang gadis yang malam-malam begini hanya mengenakan kaos lengan panjang tapi tidak cukup tebal untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya hawa malam dipadukan dengan celana jeans dan sepatu kets tampak sedang memukuli pria dihadapannya dengan sekuat yang ia bisa.

Bukan hanya itu, gadis itu bahkan menendang pria itu tepat ditengah-tengah pahanya, dan Donghae ikut meringis ketika melihat itu, seolah-olah ia bisa merasakan rasa sakit yang diderita oleh pria itu. Namun sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat gadis itu menarik sepatu kets yang ia gunakan dan menimpuknya kearah pria tadi yang kini tengah berlari menjauhinya.

“Hah rasakan. Siapa suruh mau mencuri tasku.” Gadis itu berseru sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya. Seolah-olah ia menyapu bersih lawannya.

Baru selangkah ia berjalan, tiba-tiba ia menepuk dahinya. “Sepatuku.” Gumamnya. Ia bergegas mencari sepatu yang tadi ia lemparkan kepada pria -yang ingin mencuri- tadi. Ia menajamkan pandangannya mencari kesekeliling tempat yang kira-kira tadi adalah tempat ia melemparkan sepatunya. Ia sedikit mendesah karna cukup kesulitan mencari sebelah sepatunya ditengah tempat yang cukup gelap seperti ini. Ia membungkukkan badannya meraba-raba rerumputan disekitarnya, sampai ia merasa ponsel disakunya bergetar. Ia merogoh sakunya dan menempelkan ponselnya ditelinga.

“oh, Enjung`ah”

“Aku baik-baik saja sebentar lagi aku pulang. Jajangmyon, baiklah. Tunggu aku ya.”

“Tenang saja. Minra yang kau khawatirkan ini bisa menjaga dirinya sendiri.”

“oh, ne.”

Klik.

Gadis itu, Minra. Mematikan ponselnya dan kembali mencari sepatunya. Ia masih berjongkok meraba-raba sampai ia melihat sepatu dihadapannya. Tapi itu bukan sepatunya, jelas saja karna dihadapannya itu sepasang sepatu, bukan sebelah. Minra mendongakkan kepalanya perlahan. Dan saat itu juga ia melihat seorang pria berdiri dihadapannya. Dengan sigap ia berdiri dan memasang kuda-kuda. Mewanti-wanti siapa tahu pria ini memiliki niat jahat. Yah meskipun terlihat tidak masuk akal jika melihat penampilan pria dihadapannya yang memakai jas mahal dan jam tangan mahal ditangannya, meskipun dandanannya sedikit berantakan, tapi tidak ada yang salahkan jika ia bersikap waspadas.

“Tenang nona, aku tidak memiliki niat jahat. Aku hanya ingin membantumu. Sepertinya kau sedang mencari sesuatu. Apa kau perlu bantuan.” Donghae menatap wajah gadis dihadapannya.

“Kau mau membantuku?” Tanya Minra ragu. Lelaki dihadapannya mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“Benar.” Ulang Minra. Donghae kembali menganggukkan kepalanya.

“Wah kau orang baik pertama yang kutemui di Seoul.” Ucap Minra senang.

“Kalau begitu aku tidak ragu menerima bantuanmu.” Minra menarik Donghae untuk ikut berjongkok sepertinya. “Bantu aku mencari sepatuku.”

Setelah hampir setengah jam mencari, akhirnya mereka menemukan sebelah sepatu Minra yang tersembunyi dibalik semak-semak.

“Terima kasih banyak kau mau membantuku.” Minra membungkukkan badannya.

“Ne.” jawab donghae sambil tersenyum.

Minra membalikkan badannya hendak melangkah, namun belum sempat ia melangkah, ia kembali membalikkan tubuhnya kehadapan Donghae. Tanpa aba-aba ia menarik pergelangan tangan Donghae, yang sontak membuat Donghae terkejut. Bukan itu saja yang membuatnya terkejut, tapi ucapan yang keluar dari mulut gadis itu.

“Jam 11 malam!! Astaga. Bagaimana ini, bisa-bisa aku dicincang Enjung saat tiba dirumah.” Tanpa rasa bersalah Minra menghempas kuat tangan Donghae begitu selesai melihat jam ditangan lelaki itu. Dengan tergesa ia berlari meninggalkan Donghae yang masih terbengong karna ulahnya tadi. Namun belum jauh langkahnya berlari, Minra membalikkan tubuhnya dan berteriak sambil melambaikan tangannya keatas “Terima kasih banyak tuan sepatu.” Lalu ia kembali berlari menjauh.

Tuan sepatu pikir Donghae. Ia tersenyum melihat tingkah laku Minra. “Gadis yang menarik, sepertinya menyenangkan jika memiliki istri seperti dia.” Ucapnya sambil menatap Minra yang semakin menjauh.

 

TBC…

 

Tedeng.. aku bawa cerita aneh..

G tau bingung deh,,ide ceritanya timbul tenggelem.. jadi baru ini aja deh yang bisa aku buat..

Maaf ya..

Buat part selanjutnya moga feelnya dapet..

Iklan

3 thoughts on “True love 01

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s